Senin, 08 Februari 2016

Kecewa



Ketika senja mulai berlalu, dan hitamnya langit mulai muncul. Sembulan kecewa datang dan terus datang. Sembari terus berlari, meski sakit tapi tekad tetap menyemburkan kobarnya. Hingga akhinya aku mulai tertatih ya tertatih – tatih menghilangkan kenangan tentang kita.
        Rasanya begitu sulit, lagipula ini tak terlalu berarti. Tapi anggapanmu yang mengatakan ini hal sepelelah yang membuatku yakin untuk berhenti. Aku mencoba berhenti, berhenti mempercayaimu. Walau sebelumnya aku selalu yakin padamu. Ah sudahlah percuma juga. Hati ini selaksa di timpa bara api panas, sakit, menyiksa. Ma’afmu tak berarti untukku.
        Ya hati yang terbakar kau siram dengan air. Betapa tak tersiksa kau yang nyalakan api ini lalu kau pula yang sirami air hingga padam. Padam memang tapi tetap saja rusak. Tak usah khawatir, sebelum ma’afmu terlontar. Sudah kuma’afkan engkau. Tapi sayang, percayaku telah hilang.
        Jadi jangan lagi panggil sahabat. Tak usah ucap sahabat, kita teman. Ya meski bukan sahabat tapi sama saja kan yang penting nggak ada permusuhan. Sebab sahabat nggak akan pernah menghakimi. Tidak pernah menjatuhkan apalagi tak menghargai dan mengkufuri.
        Gampangkan, kita sekarang teman. Kita teman karna teman itu tak memihak dan tak menjatuhkan. Karna persahabatan itu tak pernah bersalah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar