Ketika senja mulai berlalu, dan hitamnya langit
mulai muncul. Sembulan kecewa datang dan terus datang. Sembari terus berlari,
meski sakit tapi tekad tetap menyemburkan kobarnya. Hingga akhinya aku mulai
tertatih ya tertatih – tatih menghilangkan kenangan tentang kita.
Ya hati yang terbakar kau siram dengan
air. Betapa tak tersiksa kau yang nyalakan api ini lalu kau pula yang sirami
air hingga padam. Padam memang tapi tetap saja rusak. Tak usah khawatir,
sebelum ma’afmu terlontar. Sudah kuma’afkan engkau. Tapi sayang, percayaku
telah hilang.
Jadi jangan lagi panggil sahabat. Tak
usah ucap sahabat, kita teman. Ya meski bukan sahabat tapi sama saja kan yang
penting nggak ada permusuhan. Sebab sahabat nggak akan pernah menghakimi. Tidak
pernah menjatuhkan apalagi tak menghargai dan mengkufuri.
Gampangkan, kita sekarang teman. Kita
teman karna teman itu tak memihak dan tak menjatuhkan. Karna persahabatan itu
tak pernah bersalah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar